apakah kamu sedang dihina, dihujat atau dimarani dengan seseorang ? Saat ada seseorang yang mencibir,
menghina atau marah-marah ke kamu. Bisa karena omongan kamu yang salah, tindakan
kamu yang keliru atau kebiasaan kamu yang berbeda dari orang lain. Kamu pasti
akan terdorong membalas dengan marah atau dendam, itu yang sering terjadi. Saat
emosi sudah tak tertahan, mungkin kamu akan meledak seketika dan membalas
dengan tindakan serupa atau bahkan lebih parah.
Tapi apakah saat kita membalas perlakuan
orang lain ke kita itu hal yang baik? Apakah kita akan dibenarkan melakukannya
dan menganggapnya sebagai tindakan setimpal? Mungkin iya, bagi sebagian kita.
Tapi tahukah kamu, firman Tuhan tidak
mengajarkan seperti itu bukan? Pasti untuk sesaat kamu akan memberontak. Kita
mempertanyakan dimana keadilannya kalau kita tidak membalas perlakuan buruk
orang lain kepada kita.
Jawabannya, kamu bisa menang dan
mendapat keadilan kalau kamu meresponi tindakan yang kamu hadapi dengan tepat.
Jadi, apa yang harusnya kita lakukan
untuk membalas saat kita dihina, dicaci, di ledek dan dimarahi? Ayo kita sama -
sama, merenungkan kata-kata Merry Riana ini ya.
“Setiap manusia pasti punya pilihannya
tersendiri, punya pendapatnya tersendiri.
Tapi itu bukan alasan untuk mengecam,
membenci, apalagi menghujat orang yang berbeda pendapat dengannya.
Namun, namanya juga manusia. Kita tidak
akan bisa mengendalikan mereka. Kita hanya bisa mengendalikan respon kita.
Lalu apa yang harus kamu lakukan ketika
kamu dicaci, dibully, dihina. Padahal itu bukan salah kamu. Saya teringat
sebuah cerita. Ada seorang pemuda yang berbeda pendapat dengan seorang guru
spiritual.
Karena beda pendapat, akhirnya pemuda
itu kesal. Mengeluarkan kecaman dan kata-kata yang sangat kasar dan meluapkan
kebencian kepada sang guru yang bijak tersebut. Sang gurupun hanya diam,
mendengarkannya dengan sabar, tenang bahkan tidak berkata sepatah kata pun.
Setelah pemuda itu pergi, murid yang
melihat peristiwa itu penasaran dan bertanya. “Mengapa guru diam saja? Kenapa
guru tidak membalas makian pemuda itu?”
Sang guru pun bertanya kepada sang
murid. Jika seseorang memberimu sesuatu dan kamu tidak mau menerimanya, lantas
menjadi milik siapakah pemberian itu?
“Tentu kembali menjadi milik si
pemberi,” jawab si murid dengan lugas.
“Betul, begitu pula dengan kata-kata
kasar tersebut. Karena saya tidak mau menerima kata-kata itu maka kata-kata
tadi akan menjadi miliknya,” jawab si guru.
Dia harus menyimpannya sendiri. Dan sama
seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Coba bayangkan
kalau kamu ingin meludahi langit, apa yang akan terjadi? Ludah itu hanya akan
jatuh mengotori wajah kamu sendiri.
Jadi jika di luar sana ada orang yang
marah-marah ke kamu, biarkan saja. Karena mereka sedang membuang sampah hati
mereka. Jika kamu diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka
sendiri. Tapi kalau kamu tanggapi, berarti kamu menerima sampah itu. Dan sama
seperti cerita tersebut, telah mengingatkan saya semoga cerita yang saya
bagikan itu juga bisa mengingatkan kamu untuk menjadi orang yang lebih bijak.
Jaman sekarang begitu banyak orang yang
hidup dengan membawa sampah di hatinya. Kekecewaan, kebencian, kemarahan,
dengki, iri hati dan masih banyak lagi hal-hal negatif. Dan orang-orang itu ada
di sekitar kita.
Sadarlah, kadang mungkin ada waktu
dimana kamu harus merespon. Tapi ada juga saatnya dimana mungkin lebih baik
untuk kamu hiraukan. Kalau kamu tidak mampu untuk mengubah hal negatif menjadi
positif, jangan terima hal negatif yang berusaha ditularkan kepadamu itu.
Biarlah berlalu karena kamu jauh lebih
layak dari perkataan itu. Ketika kamu belum bisa memberi setidaknya janganlah
mengambil. Ketika kamu tidak bisa membahagiakan dia, janganlah membuat dia
sedih. Ketika kamu sulit untuk bisa menghargai setidaknya janganlah menghina.
Ketika kamu belum bisa memuji janganlah menghujat dan mengujar kebencian.
Inilah saatnya kita, kamu dan saya
menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Apakah kamu masih punya keinginan untuk
membalas tindakan yang kurang baik ke orang lain? Pikirkan lagi baik-baik karna
Tuhan tidak mengajarkan hal seperti itu.
Sumber : Jawaban.com


This post have 0 komentar
EmoticonEmoticon